MENGENAL WARISAN WALISONGO (Huruf Pegon)

Oleh Rangga Dusy

Huruf pegon adalah huruf dengan menggunakan aksara arab atau lebih tepatnya huruf yang dimodifikasi dengan ejaan Indonesia (jawi). Huruf pegon muncul sekitar  tahun 1200 M / 1300 M bersamaan dengan masuknya ajaran islam di Indonesia.

Membedakan huruf Arab pegon dengan huruf Arab asli bisa dikatakan sangat mudah. Penulisan Arab pegon menggunakan semua aksara Arab Hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi.

Dan menurut catatan lain, huruf pegon muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh RM. Rahmat atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Pesantren Ampel Dentha Surabaya. Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas huruf pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Wallahu A’lam.

Huruf pegon terbentuk seiring pergantian masa kejayaan kepercayaan animisme, dinamisme, hindu dan budha. Dan juga terbentuk karena dikalangan pesantren membutuhkan formula bahasa yang dapat digunakan untuk mempermudah mempelajari kandungan al Quran Hadis yang berbahasa arab. Maka dari sinilah huruf pegon terbentuk.

Penamaan huruf pegon sangat banyak, di daerah Malaysia dinamakan huruf Jawi. Sedangkan dikalangan pesantren dinamai huruf arab pegon. Namun di kalangan yang lebih luas, huruf Arab pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian selatan. Tak heran, jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab pegon dalam kemasannya walaupun dengan bahsa yang berbeda.

Huruf Pegon berasal dari lafadz jawa pego, yang artinya menyimpang. Karena memang huruf ini menyimpang dari literatur arab juga dari literatur jawa. Bagi yang pernah nyantri tentunya faham dengan huruf pegon, huruf-huruf ini bisa dikatakan sebagai sebuah aksara nyleneh, karena tatanannya yang agak berbeda dengan bahasa aslinya (Arab bukan, Jawa juga bukan).

Sayangnya, huruf Arab pegon kini tak lagi dikenal oleh masyarakat luas. Padahal, menurut sejarahnya, huruf Arab pegon telah digunakan secara luas oleh para penyiar agama Islam, ulama, penyair, sastrawan, pedagang, hingga politikus di kawasan dunia Melayu. Peran penjajah juga mempengaruhi berkurangnya pemahaman huruf pegon. Karena pada masa penjajahan dalam pemerintahan bahasa yang digunakan adalah huruf latin. Sedangkan huruf pegon terisolir didunia pesantren.

Pergeseran penggunaan huruf Arab pegon bukan cuma  pada huruf latin saja, namun hingga menjadi huruf Romawi. Hal ini dimulai saat Kemal Attaturk dari Turki menggulingkan kekuasaan Khalifah Utsmaniyah terakhir, Sultan Hamid II pada tahun 1924.

Kongres bahasa yang diadakan di Singapura pada 1950-an memperkuat kedudukan huruf Romawi. Salah satu keputusan dalam kongres tersebut menghasilkan pembentukan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang mempelopori dan mengompori penggunaan abjad Romawi. Saat itulah hampir semua penerbit koran, majalah, dan buku dengan terpaksa mengganti aksara Arab pegon dengan huruf Rumawi.

 

Pakem Pegon

Dalam penulisan bahasa apapun tentu ada pakem atau gramatika tertentu yang menjadi acuan. Sebagaimana literatur bahasa arab yang mempunyai pakem bahasa disebut nahwu sharaf, begitupun dalam penulisan huruf pegon.

Secara tertulis, pakem asli dari huruf pegon belum pernah ditemukan. Namun, melihat dari bebarapa kitab klasik yang ditulis dengan menggunakan bahasa daerah, terdapat beberapa huruf yang semuanya hampir mirip dan perbedaannya hanya tertuju pada pembubuhan huruf vocal saja. Pakem dari huruf pegon adalah modifikasi huruf arab yang ditranslit masuk dalam huruf-huruf carakan (aksara jawa), dan bermetafora menyesuaikan diri dengan huruf abjad (hal ini diistilahkan dengan abajadun) dalam hal inilah (modifikasi dengan huruf abjad) yang banyak dipelajari hingga saat ini.

Berikut ini adalah tabel modifikasi huruf pegon dengan carakan (Hanacaraka):

 

Dalam tabel tersebut terdapat berbagai pembawuran (istilah pesantren untuk menilai pada perkara yang diplesetkan) huruf arab yang memang tidak sesuai literatur bahasa aslinya.

Itu bisa dilihat dari beberapa kaidah-kaidah dalam penulisannya. Seperti huruf (Ca) yang ditulis dengan menggunakan huruf arab (Jim) dengan titik tiga. Kemudian (Po) menggunakan huruf (Fa’) dengan tiga titik diatas. Aksara (Dha) menggunakan huruf (Dal) dengan tiga titik diatas. Aksara jawa (Nya) menggunakan huruf (Ya’) dengan tiga titik diatas. Serta aksara jawa (Nga) dengan menggunakan huruf arab (‘Ain) dengan tiga titik.

Huruf pada tabel diatas meruakan huruf mati semua (konsonan) sebelum dibubuhi huruf vocal. Sedangkan huruf vocal pada literartur arab hanya ada tiga, yaitu: alif, ya’ dan wawu (ا ي و ). Serta harakat fathah, dlomah, kasroh, pepet dan hamzah (hanya untuk alif).

Penggunaan huruf vocal dan beberapa harakat ini adalah untuk memudahkan dan juga menjauhkan kesalahan dalam pembacaan, hal ini karena dalam penulisan arab pegon atau huruf jawi banyak terjadi kesamaan.

 

Berikut adalah tabel modifikasi huruf hijaiyah dengan huruf latin atau lebih dikenal dengan istilah Abajadun:

 

Dalam tabel diatas terdapat sebuah simbol nomor yang tertera dalam masing-masing huruf, ini berguna untuk menghitung dalam almanak dan banyak terdapat pada kalender yang menyertakan almanak. Ini tidak berbeda jauh dalam beberapa huruf Romawi semisal huruf (X) untuk angka 10.

Hanya saja, sebenarnya dalam pembuatan huruf abajadun ini lebih banyak digunakan dalam ilmu hisab (hitung). Hal ini sesuai dengan sejarah dari huruf abajadun itu sendiri.

Ilmu menghitung aksara arab telah di kenal sejak masa kejayaan islam. ilmu tersebut , konon merupakan bagian proyek alih pengetahuan yang dihelat Dinasti Abbasiyyah dengan menerjemahkan buku – buku asing. Setelah melalui proses ” asimilasi” , ilmu itu di kembangkan oleh para ulama ahli hikmah, sebagai contohnya adalah Al Imam Abdul Abbas Ahmad bin Ali al Buni dengan kitabnya Syamsul Ma’arif dan Manba’u Ushulil Hikmah serta Al Imam Abu Hamid Muhammad al Ghazali dalam Al aufaq.

Ilmu hikmah adalah ilmu yang di turunkan oleh Allah khusus kepada Hurmus (tokoh yang hingga kini masih diperdebatkan). Hurmus itulah yang diberi kemampuan Allah bisa menerjemahkan nilai – nilai gaib menjadi kenyataan. Dan dari nama Hurmus itu terbentuk kata hermeneutic (upaya menafsirkan yang gaib menjadi kasat mata). Wallahu a’lam.

  • http://gus-boer.blogspot.com burhanul adib

    tabelnya ko mboten ketingal?

Site protected by VNetPublishing.Com Web Security Tools