Mengenang Dinasti Saljuq & Madrasah Nidzamiyah

[Kajian Agama dan Budaya]

Oleh: H. Ahmad Taufiq*

Abstrak
Imam Ghazali adalah salah satu produk asli Madrasah Nidzamiyah, yang kemudian mengajar di Madrasah itu selama beberapa tahun. Bahkan beliau pernah menjadi Guru Besar/Syekh[1] di sana dan sampai akhirnya memperoleh gelar Hujjatul Islam. Nidzamiyah pula yang berhasil mengembangkan dan menyebar madzhab Sunni Syafi’iyyah di daerah yang merupakan pusat madzhab Syi’ah. Selain Hujjatul Islam, ada juga al-Juwaini, guru pembimbing yang tinggal serumah dengan al-Ghazali.[2]

Madrasah Nidzamiyyah telah berjasa dalam banyak hal, diantaranya; berhasil memberhentikan meluasnya aliran Mu’tazilah dan aliran syi’ah, mengembangkan Sunni Syafi’iyyah, menyebar teologi Asy’ariyyah, dan juga turut menumbangkan teologi Mu’tazilah dan Syi’ah. Melihat kenyataan diatas, dalam tulisan ini akan dibahas beberapa hal terkait dengan madrasah Nidzamiyyah yang berdiri pada masa dinasti Bani Salajiqah (Bani saljuq: berkuasa pada tahun 429 H/1037M).Seputar Bani Saljuk
Bani Saljuq merupakan kepanjangan dari kekhalifahan Bani Abbasiyyah di Baghdad, dinasti ini merupakan periode ke 2 setelah Bani Abbasiyyah berhasil menumbangkan Dinasti Buwaihi dan Dinasti Ghaznah. Dinasti saljuk didirikan oleh Tughri Beg, yang bertahan memerintah wilayah kekuasaannya selama sekitar dua abad. Kekhalifahan Abbasiyyah resmi berdiri 447-656 H/1055-1258 M dan menjadi bagian dari kerajaan-kerajaan kecil (Muluk al-Thawa’if) Abbasiyyah yang terakhir, sebab pasca kehancuran dinasti saljuq ini, kekhalifahan Abbasiyyah runtuh total dan berakhirlah masa kejayaan Islam.

Wilayah ini sebelum dikuasai Dinasti Saljuq merupakan wilayah kekuasaan Bani Buwaihi yang menganut aliran Syi’ah. Pusat pemerintahannya berada di kota Naisaphur yang kemudian di pindah ke wilayah Ray di Iran, dan selanjutnya kota Baghdad difungsikan sebagai kota keagamaan dan kerohanian.

Keberhasilan Bani Saljuq dalam mempertahankan kekuasaannya, tak lepas dari para wazir (pembantu sulthan/menteri) yang senantiasa loyal dan patuh terhadap sulthan serta kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan. Diantara mereka yang telah berjasa dalam membangun dan mempertahankan dinasti Bani saljuq adalah:

1.Abu Muhammad bin Muhammad Fakhrul, Wazir pada masa Sulthanal-
Qa’im.
2.Abu Syarwan bin Khalid al-Qasyani, Wazir pada masa Sulthan al-
Mustarsyid.
3.Ibnu al-Attar, ia menjadi Wazir pada masa al-Nasir.
4.Abu Nasr Muhammad bin Manshural-Kundari, Wazir pada masa Sulthan
Tghrul Beg dan Alb Arsalam.
5.Tajuddin Abu al-Ghanayim, Wazir pada masa Sulthan Sanjar.
6.Ali bin al-Hasan al-Tughra, Wazir pada masa Sulthan Sanjar.
7.Sa’ad bin Ali bin Isa, Wazir pada masa Sulthan Mahmud.
8.al-Ustadz al-Tughra’i, Wazir pada masa Sulthan Mas’ud bin Muhammad
di Irak.
9.Nizam al-Mulk, Wazir Pada masa Sulthan Sultan Malik Syah

Berdirinya Madrasah Nidzamiyyah
Sebagaimana diketahui, bahwa sebelum berdirinya Madrasah sebagai lembaga pendidikan, dalam agama Islam telah dikenal tempat belajar berupa Masjid3 dan Kuttab. Kuttab merupakan tempat belajar yang dikhususkan pada para pelajar Islam yang masih kecil, sebab dalam kuttab ini hanya diajarkan cara membaca dan cara menulis.[4]Seiring dengan luasnya wilayah kekuasaan Islam, semakin banyak pula anak-anak muda Islam yang ingin belajar yang tentunya membutuhkan tempat memadai untuk menampung mereka. Atas dasar itulah di dirikan sebuah Madrasah.

Istilah madrasah pertama kali lahir di Naisapur berkat ‘sentuhan’ Syekh al-Baihaqi5. Kemudian dinasti Bani Saljuk pada masa Sulthan Malik Syah dengan Wazir Nidzam al-Mulk (465-485 H) membangun sebuah Madrasah dengan nama madrasah Nidzamiyyah, yang diambil dari nama pendirinya, Nidzam al-Mulk. Madrasah ini tidak didirikan disatu kota, melainkan menyebar pada setiap kota yang ada dibawah kekuasaan Dinasti Saljuq. Diantaranya adalah Baghdad, Naisaphur, Balk, Heart, Asfahan, Marwu, Annal dan Mausil (kalau sekarang mungkin: IAIN, MAN, MTsN dan sekolah lain yang berstatus Negeri, yang ada disetiap kota dan kabupaten).

Motif pendirin Madrasah ini menurut Ahmad Syalabi (1995) ialah karena dua hal. Pertama motif Politik. Dengan adanya madrasah ini, dinasti Saljuq bisa mengkontrol semua daerah dengan mudah, karena sistem yang dipakai Nidzamiyyah adalah sentralistik dari pusat kedaerah atau dari atas ke bawah. Motif kedua adalah ideologi/madzhab. Seperti keterangan diatas, bahwa Dinasti Buwaihi yang menganut Syi’ah serta sisa-sisa aliran Mu’tazilah telah ada sebelum Bani saljuq berdiri, pendirian madrasah Nidzamiyyah juga karena motif untuk menyebarkan aliran Sunni Syafi’iyyah.

Murid, Kurikulum dan Guru
Madrasah Nidzamiyyah merupakan lembaga pendidikan yang terstruktur, manajemen dan administrasinya sangat tertata dengan baik. Dengan sistem sentralistik, semua kurikulum, metode pembelajaran, sistem belajar, pengangkata guru dan semua keperluan madrasah diatur oleh Pusat. Hal itu menjadikan tidak sembarangan orang bisa menjadi guru di Madrasah Nidzamiyyah, karena pusat melakukan seleksi yang sangat ketat.

Menurut Toha Hamim (2007) jangankan melamar menjadi guru, melamar untuk menjadi murid-pun harus melalui seleksi yang tidak mudah, sehingga pelajar yang diterima Madrasah Nidzamiyyah adalah mereka yang betul-betul handal. Bahkan disebutkan, bahwa Imam al-Ghazali baru bisa masuk ke Madrasah Nidzamiyyah setelah umur 21 tahun dengan proses seleksi dan tes masuk yang sangat ketat, sehinga saat itu Madrasah Nidzamiyyah betul-betul menjadi madrasah yang favorit dan bonafit.

Para pelajar Madrasah Nidzamiyyah dimanjakan dengan berbagai fasilitas dan kemudahan, terlebih bagi mereka yang berprestasi. Aliran beasiswa sangat besar dari pemerintah siap menjamin kesejahteraannya.

Diantara fasilitas yang disediakan di Nidzamiyyah adalah perpustakaan yang menyediakan buku sebanyak 6000 judul.[6]

Para guru (Syekh)pun mendapat perhatian khusus. Pihak Negara memberikan gaji yang sangat besar pada mereka. Guru pada saat itu dapat diklarifikasikan sebagai berikut;
1.al-Ustadz bil Kursi (Guru Besar yang memiliki gelar Profesor Doktor,
guru Senior yang sudah teruji keilmuannya serta sudah mendapat gelar
kehormatan). Disamping mendapat dana pensiun, Negara juga
menjamin penuh kehidupan keluarga mereka.
2.al-Ustadz (guru dibawah al-Ustadz bil Kursi), mereka juga menerima gaji
yang tidak sedikit dari pemerintah.
3.al-Ustadz al-Muntasib (Asisten Dosen/asisten Guru Besar yang
senantiasa mendampingi Mahasiswa disaat menghadapi kesulitan dalam
belajar), Negara juga memberikan mereka gaji.
4.al-Mudarris (guru, tenaga pengajar yang belum mendapat gelar Doktor),
yang juga digaji oleh Negara.

Lalu diantara para ulama yang pernah mengajar di Nidzamiyyah adalah;
1.Imam Abu Ishaq al-Syerozy.
2.Imam al-Ghazali
3.Imam al-Qoswaini
4.Imam al-Juwaini
5.Imam Ibnul jauzi
6.Dan lain-lain.7

Itulah para ulama yang menjadi tenaga pengajar di Madrasah Nidzamiyyah, mereka adalah para ilmuan handal yang teruji kemampuannya dalam bidang mereka masing-masing. Karena gaji yang besar inilah, para guru betul-betul perhatian terhadap pendidikan dimana mereka mengajar, sebab pemikirannya tidak terpecah untuk mencari penghasilan lain.

Gaji para Dosen Madrasah Nidzamiyyah sangatlah besar, bahkan Imam Ghazali pada saat beliau masih menjadi Guru Besar, dengan gaji yang beliau terima dapat membeli kuda yang sangat mahal. Bahkan paling mahal dan paling bagus kala itu. Sebab selain mengajar, Imam Ghazali tidak memiliki usaha lain sebagai pemasukan keuangan keluarga. Pada waktu itu, pihak Negara juga menyediakan dana untuk melakukan penelitian. Hingga pada waktu itu sudah ditemukan mesin pendingin ruangan. (Toha Hamim, 2007)

Penutup
Dari tulisan diatas, paling tidak ada lima hal yang dapat kita petik dari Madrasah Nidzamiyyah. Pertama, Nidzamiyyah telah berjasa dalam mengembangkan Sunni Syafi’iyyah. Kedua, Nidzamiyyah telah berhasil menumbangkan madzhab Syi’ah di daerah itu (meskipun Syi’ah sekarang masih ada, tapi minimal sudah berkurang). Ketiga, Nidzamiyyah sangat menghargai guru dengan gaji yang sangat besar, sehingga guru tidak perlu lagi berfikir mencari nafkah untuk keluarganya. Keempat, Madrasah ini betul-betul menyeleksi calon Mahasiswanya dengan sangat ketat, sehingga betul-betul menjadi sekolah favorit sampai saat itu dan wajar jika banyak alumninya menjadi ulama handal. Kelima, Nidzamiyyah sangat mendukung kemajuan ilmu pengetahun, hal ini terbukti pengelola Nidzamiyyah menyediakan beasiswa/biaya bagi dosen yang mau mengadakan penelitian untuk menemukan teori-teori baru. Nah, Pertanyaannya adalah, apakah lembaga pendidikan Islam sekarang juga seperti itu? Wallahu A’lam Bisshowab.

* Siswa kelas I Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Lirboyo, Kediri.

Daftar Pustaka
Alamsyah, Yosep Aspat, Pendidikan Islam Pada Masa Dinasti Saljuk, dalam Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Kensana, 2005
Al-Ghazali, Berbisnis dengan Allah, terjemahan dari Ahmad Frank dengan judul asli Mizanul ‘Amal, Surabaya: Pustaka Progresif, 2002
Fauzan, Suwito, dalam Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2005
Yatim, Badri, Emsiklopedi Mini: Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Logos, 1996
Solihin, Muhammad, Tazkiyatun Nafsi dalam Perspektif Tasawuf al-Ghazali, Bandung: Pustaka Setia, 2000
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidika Dalam Perspektif Islam, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2000
Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1997

Site protected by VNetPublishing.Com Web Security Tools